RSS

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN KB DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK

14 Apr

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Melalui konferensi internasional tentang kependudukan dan pembangunan di Kairo tahun 1994 disepakati paradigma baru program KB dari pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi lebih ke arah pendekatan kesehatan reproduksi dengan memperhatikan hak-hak reproduksi dan kesetaraan gender.
Dalam konferensi tersebut disepakati pula program kesehatan reproduksi suatu keadaan Sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan semata-mata bebas dari penyakit dan kecacatan, dalam aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan prosesnya. Dengan konsep yang demikian, penanganan kesehatan reproduksi menjadi cukup luas yang antara lain meliputi pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi setiap individu, baik pria maupun perempuan sepanjang siklus hidup termasuk hak-hak reproduksi, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan serta reproduksi. Namun demikian sepanjang perjalanan sejarah program KB nasional, masih banyak permasalahan yang ada sehingga menimbulkan persepsi bahwa program KB dan kesehatan reproduksi saat ini masih bias gender. Hal ini ditandai dengan masih tingginya angka kematian dan kesakitan ibu hamil, melahirkan dan nifas. Tingginya angka aborsi, infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual dan HIV / AIDS, kekerasan terhadap perempuan, masih tingginya pernikahan usia muda, rendahnya kesertaan pria/suami dalam KB dan masalah inpartilitas.
Kematian dan kesakitan ibu hamil, melahirkan dan nifas. Saat ini angka kematian ibu sekitar 373 per 100.000 kelahiran hidup tingginya kematian dan kesakitan ibu hamil, melahirkan, nifas dan aborsi akibat komplikasi sangat terkait adanya diskriminasi gender dalam masyarakat yang mengakibatkan adanya keterlantaran perempuan bukan hanya saat hamil dan melahirkan tapi sejak perempuan itu masih kecil dan remaja.
Angka aborsi di Indonesia menurut WHO diperkirakan sekitar 750.000 – 1,5 juta tindakan per tahun yang dilakukan dalam keadaan tidak aman, dan 15 persennya mengalami kematian. Aborsi pada hakikatnya merupakan kehamilan yang tidak diinginkan sebagai dampak dari pergaulan bebas yang biasanya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan di luar nikah, pasangan suami istri kelompok unmarried serta kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi.
Kekerasan dalam perempuan, kekerasan dalam perempuan semakin meningkat dalam berbagai kasus seperti kekerasan rumah tangga, perkosaan dan pelecehan seksual yang jelas-jelas membawa penderitaan bagi kaum perempuan yang semenjak dahulu menjadi golongan subordinasi.
Infeksi saluran reproduksi PMS-HIV / AIDS, infeksi saluran reproduksi yang dialami oleh perempuan menjadi beban berat baginya dibanding pria / laki-laki, karena dapat mengakibatkan kemandulan, keguguran, kehamilan di luar rahim dan penyakit radang panggul. Akibat perilaku seksual yang tidak sehat yang dilakukan oleh kebanyakan kaum pria, menjadi akibat buruk yang ditanggung oleh kaum perempuan.
Tingginya pernikahan usia muda menggambarkan ketidakberdayaan perempuan dalam menentukan jalan hidupnya. Mereka dipaksa oleh orang tua karena orang tua ingin segera terbebas dari beban ekonomi, khawatir anaknya tidak dapat jodoh, segera ingin mendapat cucu dan lain sebagainya. Sementara orang tua cenderung tidak memaksa hal ini kepada anak laki-lakinya. Akibat dari pernikahan usia muda tersebut membawa resiko tinggi bagi perempuan yang melahirkan seperti resiko kematian ibu dan bayinya.
Pada keluarga infertil, istri cenderung menjadi pihak yang dipersalahkan, padahal ada kemungkinan kesalahan juga ada pada pihak laki-laki. Dalam pemeriksaan medis, istri selalu diminta untuk memeriksakan diri terlebih dahulu, dan baru diikuti oleh pemeriksaan suami apabila perempuan tidak ada indikasi infertil. Kedudukan suami yang dipandang lebih tinggi dibanding istri oleh masyarakat umumnya (misalnya sebagai kepala keluarga) mengakibatkan suami cenderung tidak mau dipersalahkan dalam masalah-masalah kesehatan reproduksi termasuk dalam infertilitas.

B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara senam hamil dengan proses melahirkan.

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan KB dengan pemilihan alat kontrasepsi suntik.
2. Tujuan khusus
– Membantu keluarga dalam menangani masalah KB
– Membantu keluarga dalam pemilihan alat kontrasepsi yang sesuai
– Meningkatkan peran serta keluarga dalam KB

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan informasi yaitu mengetahui manfaat hubungan antara tingkat pengetahuan KB dengan pemilihan alat kontrasepsi suntik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka merupakan sumber ide penelitian yang dapat memberika informasi tentang hal-hal yang harus diketahui dan memberikan informasi tentang pendekatan penelitian.
Tinjauan pustaka adalah kegiatan peneliti dimana peneliti memahami, mencermati, menelaah dan mengidentifikasi pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku-buku referensi atau hasil penelitian lain) untuk menunjang penelitiannya (Hasan, 2002).
A. Keluarga Berencana
a. Definisi
Menurut WHO expert committee (1970) keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga (Hartanto, 2004).
b. Metode kontrasepsi
Pengertian dari kontrasepsi adalah mengurangi kemungkinan terbentuknya kontrasepsi atau mencegah pembuahan (Dorland, 1998). Pada keluarga berencana digunakan alat/obat sebagai kontrasepsi. Pemilihan metode kontrasepsi umumnya masih dalam bentuk cafetaria/supermarket, dimana calon asepter memilih sendiri metode kontrasepsi yang diinginkan (Hartanto, 2004). Metode kontrasepsi ada yang hormonal dan non hormonal. Kontrasepsi suntik termasuk dalam kontrasepsi hormonal karena obat kontrasepsinya mengandung hormon kelamin wanita yaitu hormon estrogen dan progesteron. Pada dasar penggunaan kontrasepsi yang rasional untuk pasangan usia subur berdasarkan masa menunda kesuburan atau kehamilan, masa mengatur kesuburan atau menjarangkan kehamilan dan masa mengakhiri kesuburan atau tidak hamil lagi (BKKBN, 1988).
c. Faktor-faktor dalam memilih metode kontrasepsi menurut Hartanto (2004), faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih metode kontrasepsi
1) Faktor pasangan
a) Umur
b) Gaya hidup
c) Frekuensi senggama
d) Jumlah keluarga yang diinginkan
e) Pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu
2) Faktor kesehatan
a) Status kesehatan
b) Riwayat haid
c) Riwayat keluarga
d) Pemeriksaan fisik
e) Pemeriksaan panggul
3) Faktor metode kontrasepsi
a) Efektivitas
b) Efek samping minor
c) Kerugian
d) Komplikasi yang potensial
e) Biaya
d. Macam-macam metode kontrasepsi
Hartanto (2004) dalam bukunya mengemukakan macam-macam metode kontrasepsi, sebagai berikut:
1) Metode sederhana
a) Tanpa alat
KB alamiah (metode kalender, metode suhu basal, metode lendir serviks), coitus, interuptus
b) Dengan alat
Mekanis (kondom pria, diafragma, kap serviks, spons) dan kimiawi (vaginal cream, vaginal foam, vaginal jelly, vaginal tablet)
2) Metode modern
a) Kontrasepsi hormonal (pil / per oral, suntikan, implant)
b) Kontrasepsi non hormonal yaitu intra uterina device (IUD)
c) Kontrasepsi mantap (vasektomi dan tubektomi)

B. Kontrasepsi Suntik
a. Definisi
Kontrasepsi suntik adalaha lat pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada ibu yang masih subur (BKKBN, 1988).
b. Macam suntikan yang tersedia
Dari BKKBN (1988) membagi kontrasepsi suntik menjadi 2 golongan yaitu:
1) Golongan progestin
Kontrasepsi suntik yang hanya mengandung progeston saja, yaitu terdiri dari depo medroxyprogesteron acetat (DMPA) dengan nama dagangnya depo progestin dan noristerat (NET-EN) yang mengandung norethisterone. Dosis penggunaan DPMA adalah 150 mg dalam 1 ml larutan steril yang disuntikkan setiap 3 bulan atau 12 minggu atau 90 hari dengan rentang waktu 14 hari. Sedangkan dosis untuk NET-EN adalah 200 diberikan setiap 2 bulan atau 60 hari. Cara pemberian yaitu intra muskuler di otot gluteal atau deltoid.
2) Golongan kombinasi
Kontrasepsi suntik yang merupakan kombinasi antara progesteron dan estrogen yaitu cyclofom atau cyclogeston, terdiri dari 25 mg DMPA dengan 5 mg estradiolcypionate dalam larutan steril 0,5 ml. pemberiannya setiap 30 hari dengan rentang waktu 3 hari. Cara pemberiannya sama dengan golongan progestin yaitu secara intra muskuler di otot deltoid atau otot gluteal.

c. Mekanisme kerja kontrasepsi suntik
Dari Hartanto (2004) menjelaskan mekanisme kerja kontrasepsi suntik yaitu:
1) Primer
Kadar folikel stimulating hormon (FSH) dan Lhetenizing hormon (LH) menurun dan tidak terjadi sentakan LH. Respon kelenjar hypofise terhadap gonadotropme – releasing hormon eksogonous tidak berubah sehingga memberi kesan proses terjadi di hipotalamus daripada di hipofise.
2) Sekunder
Lendir serviks menjadi kental dan sedikit. Sehingga merupakan barier terhadap spermatozoa. Membuat endometrium menjadi kurang baik untuk implantasi ovum yang telah dibuahi karena endometrium menjadi atropi. Selain itu juga mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba fallopi.
d. Efek samping kontrasepsi suntik
Efek samping kontrasepsi suntik menurut BKKBN (1997) adalah:
1) Gangguan haid
Pada para aseptor KB suntik bisa didapat adanya gangguan haid yaitu amenorea, menoragia dan spoting. Amenorea diduga disebabkan atau berhubungan dengan atrofi endometrium. Adanya perdarahan yang irregular waspadai adanya gangguan dalam rahim dan anemia.
2) Perubahan berat badan
Berat badan bisa naik atau turun setelah penggunaan kontrasepsi suntik. Hipotesa para ahli bahwa penggunaan depomedroxi progesteron acetat (DMPA) merangsang pusat pengendali nafsu makan lebih banyak dari biasanya.
3) Sakit kepala
Insiden yang terjadi pada < 1-17% aseptor, rasa berputar, yang dapat terjadi pada satu sisi (migrain) atau seluruh bagian kepala. Waspadai jika disertai gangguan penglihatan.
4) Efek pada sistem kardiovaskuler
Tampaknya hampir tidak ada efek pada tekanan darah atau dampaknya sangat kecil terhadap tekanan darah, tetapi dapat menurunkan High Density Lipoprotein – kolesterol (HDL-kolesterol). Hal tersebut dicurigai dapat menambah besar resiko timbulnya penyakit kardiovaskuler yaitu timbulnya arteriosklerosis (Hartanto, 2004). Secara farmakologi disebutkan bahwa tidak sedikit akseptor yang mengalami kenaikan tekanan darah dari yang ringan sampai berat. Perubahan ini reversibel, tetapi kadang-kadang menetap meskipun obat telah dihentikan (FKUI, 1995). Menurut penjelasan dari Depkes RI (1997) bahwa kontrasepsi suntik punya dampak yang sangat kecil terhadap peningkatan tekanan darah. Bila ada riwayat tekanan darah tinggi, metode kontrasepsi non hormonal mungkin pilihan yang lebih baik.
5) Jerawat
Munculnya jerawat atau agne mungkin akibat penggunaan progestin androgenis.
6) Keputihan
Adanya cairan putih kekuningan yang keluar dari liang vagina. Hal ini jarang terjadi, tetapi bisa disebabkan karena perubahan hormonal.
e. Kontra indikasi kontrasepsi suntik
Kontra indikasi kontrasepsi suntik menurut BKKBN (1988) adalah sebagai berikut:
1) Hamil atau kemungkinan hamil
2) Riwayat penyakit hati
3) Perdarahan di vagina yang tidak diketahui sebabnya
4) Kelainan kardiovaskuler seperti hipertensi berat, varises, infark miokard, anemia kronik
5) Tumor atau kanker ginekologik

C. Tekanan Darah
a. Definisi
Tekanan darah adalah kekuatan yang ditimbulkan pada dinding pembuluh darah arteri. Tekanan darah arteri adalah pengukuran tekanan darah sebagai akibat pulsasi darah melalui arteri (Kozier, 1997). Tekanan darah merupakan hasil perkalian dari cardiac output (CO) dan resistensi vaskuler perifer ®, jadi bisa dirumuskan dengan TD = CO x R (Perry and Potter, 1993).
b. Faktor-faktor yang mengontrol tekanan darah
Kozier (1997) menyebutkan faktor-faktor yang dapat mengontrol tekanan darah yaitu:
1) Cardiac output
Cardiac output adalah jumlah darah yang diejeksikan atau dipompakan dari jantung permenit selama kontraksi ventrikel. Peningkatan dan penurunan cardiac output dapat mempengaruhi tekanan darah.
2) Volume darah
Peningkatan atau penurunan volume darah akan mempengaruhi tekanan darah. Berkurangnya volume darah bisa menurunkan tekanan darah, demikian juga sebaliknya.
3) Elastisitas dinding pembuluh darah arteri
Dinding pembuluh darah arteri normalnya adalah elastis, dimana kontraksi selama sistol dan retraksi selama diastole. Sistole adalah periode relaksasi ventrikel. Pada arteriosklerosis, terjadi penurunan elastisitas arteri dan menjadi keras dan kaku. Kondisi ini sering terjadi pada usia tua yang mengakibatkan tekanan sistole meningkat karena arteri tidak bisa berkontraksi dengan baik.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah
Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah menurut Perry and Potter (1993) adalah sebagai berikut:

1) Usia
Tekanan darah akan semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Hal ini dihubungkan dengan berkurangnya elastisitas pembuluh darah arteri. Dinding arteri akan semakin besar dan meningkatkan tekanan darah.
2) Stress
Ansietas, takut, nyeri dan stress emosional akan merangsang syaraf simpatik, mengakibatkan peningkatan denyut jantung serta peningkatan resistensi atau tahanan arteri. Selain itu juga menyebabkan vasokonstriksi arteri.
3) Latihan
Adanya latihan atau aktivitas dapat meningkatkan cardiac output dan tekanan darah.
4) Obat-obatan
Ada beberapa obat yang bisa menyebabkan peningkatan atau penurunan tekanan darah, seperti jenis obat analgetik akan menurunkan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah disebut hipertensi. Sedangkan penurunan tekanan darah disebut hipotensi. Nilai normal tekanan darah untuk dewasa adalah 120 mmHg untuk sistole dna 80 mmHg untuk sistole atau sering ditulis 120/80 mmHg. Seorang dikatakan hipertensi bila tekanan sistole 140 mmHg dan diastole 90 mmHg atau 140/90 mmHg (Kozier, 1997).
d. Ada pengaruh penggunaan KB suntik terhadap peningkatan tekanan darah
Gangguan kardiovaskuler yang ditimbulkan akibat pemakaian kontrasepsi suntik salah satunya adalah dapat menurunkan High Density Lipoprotein – Kolesterol (HDL – Kolesterol) yang bisa menyebabkan terjadinya arterosklerosis, pada arteri lumennya akan semakin sempit. Sempitnya lumen arteri bisa meningkatkan resistensi atau tahanan vaskuler arteri. Selain itu arteriosklerosis akan menurunkan elastisitas dinding pembuluh darah arteri (Kozier, 1997). Pada penjelasan diatas telah disebutkan bahwa tekanan darah adalah hasil perkalian atau berbanding lurus antara cardiac output dengan resistensi atau tahanan vaskuler perifer. Dari perkalian tersebut jika salah satu mengalami peningkatan maka tekanan darah juga akan meningkat (Perry and Potter, 1993).
Kesertaan ber KB pria rendah. Data SDKI 1997 menunjukkan bahwa jumlah peserta KB baru pria hanya 1,1% sementara peserta KB perempuan mencapai lebih dari 98%, ketimpangan ini terjadi karena berbagai faktor seperti:
1) Faktor sosial budaya yang beranggapan bahwa KB adalah urusan perempuan sehingga pria tidak perlu berperan. Setelah terbukti bahwa istrinya tidak menggunakan alat atau metode kontrasepsi yang ada, barulah suami merasa perlu menjadi peserta KB atau bahkan tidak menjadi peserta sama sekali (Unmed need)
2) Pelaksanaan program yang lebih mengarahkan pada kaum perempuan
3) Aksesibilitas pria terhadap informasi mengenai KB rendah karena masih terbatasnya informasi tentang peranan pria dalam KB dan kesehatan reproduksi
4) Aksesibilitas pria terhadap sarana pelayanan kontrasepsi rendah. Di puskesmas terdapat pelayanan KIA yang umumnya melayani ibu dan anak saja sehingga pria merasa enggan untuk konsultasi dan mendapat pelayanan. Demikian pula terbatas kebutuhan pria/suami menyebabkan istrilah yang lebih dapat memanfaatkan sarana pelayanan tersebut
5) Jenis metode kontrasepsi untuk pria sampai saat ini masih terbatas pada kondom dan vasektomi. Berbeda dengan kontrasepsi bagi perempuan yang jenisnya jauh lebih beragam
6) Suami dominan dalam mengambil keputusan. Pemakai kontrasepsi yaitu istri dan bahkan sampai kepada pemilihan jenis metodenya, istri cenderung patuh dan kalaupun berperan biasanya hanya pada penentuan sarana pelayanannya dengan pertimbangan biaya dan jarak/lokasi

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Metode diskriptif yaitu metode analisis untuk mengetahui gambaran mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya hubungan pengetahuan KB dengan pemilihan alat kontrasepsi. Penelitian dilakukan dengan survey untuk lebih mengungkapkan sebab dan ide (Indriantono, 1999).

B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2002) Hasan (2002) dalam bukunya mengemukakan bahwa populasi adalah totalitas dari semua obyek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Sampel dalam penelitian ini adalah total jumlah populasi menurut Sugiyono (2003), teknik pengambilan sampel dengan menggunakan semua anggota populasi sebagai sampel disebut dengan sampel jenuh.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini (2002). Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek. Jakarta: EGC

BKKBN. (1997). Kapita Selekta Peningkatan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: BKKBN

Hartanto, Hanafi. (2004). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

http://www.google.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 14, 2011 in Uncategorized

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: